Review Karya Ilmiah tentang Data Collection
PENDAHULUAN
Jurnal ilmiah secara umum adalah merupakan suatu terbitan berkala yang berbentuk pamflet berseri berisi bahan imiah yang sangat diminati orang saat diterbitkan. Jurnal ilmiah dapat diterbitkan oleh asosiasi profesi, lembaga riset, universitas maupun penerbit, dengan lingkup yang cukup spesifik (https://andykamto.com/mengenal-jurnal-ilmiah-pengelolaan-dan-penerbitan/) Pusat penelitian dan pengembangan Perikanan mempunyai 9 Balai dan 1 loka dibawahnya. Yaitu: Balai Penelitian Perikanan Laut, Balai Penelitian Perikanan Perairan Umum, Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar, Balai Penelitian Pemuliaan Ikan, Balai Litbang Budidaya Ikan Hias, Balai Besar Litbang Budidaya Laut dan Loka Litbang Budidaya rumput Laut. Dari Balai-Balai tersebut KTI di Puslitbang Perikanan dihasilkan. Jumlah jurnal yang ada di puslitbang perikanan ada 9 buah jurnal. Masing – masing jurnal terbit berbeda-beda tiap tahunya untuk Indonesian Fisheries Research Journal terbit 2 kali setahun (dua nomor), Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap 2 nomor, Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia 2 nomor, Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya Dan Penangkapan 2 nomor, Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 2 nomor, Buletin Teknik Litkayasa Akuakultur 2 nomor, Indonesian Aquaculture Journal 2 nomor, Jurnal Riset Akuakultur 4 nomor, Media Akuakultur 2 nomor. Ada beberapa langkah dalam menyusun jurnal yaitu: Pengumpulan makalah, Proses evaluasi makalah oleh reviewer yang ditunjuk, Proses revisi makalah, Pengeditan makalah yang telah dinyatakan Accepted, Pengiriman hasil penyuntingan makalah kepada penulis untuk dilakukan proof read, dan Permintaan Assignment of Copyright dari penulis (ITB, 2009) Tujuan dari penulisan artikel ini adalah Untuk mengetahui gambaran umum Pengolahan jurnal menggunakan Open Journal Systems (OJS) di Puslitbang Perikanan.Untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam penerapan Open Journal Systems (OJS)
Pengajuan Akreditasi Jurnal
Pengelolaan Jurnal Ilmiah pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan mengacu pada Pusat Data Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI) syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pengajuan akreditasi antara lain:
1. Nama Berkala
1. Nama berkala singkat sehingga mudah diacu.
2. Nama yang dipakai menonjolkan bidang ilmu dan/atau bidang aplikasi dan bukan nama lembaga/organisasi atau kota penerbitnya.
3. Istilah dan kata yang terkandung di dalam nama (majalahberkala, jurnal, buletin, berita, pemberitaan, risalah, forum, warta, nota teknis, konstribusi, komunikasi) dipakai dengan makna yang tepat dan sesuai.
4. Adanya keselarasan antara nama dan disiplin ilmu dan/atau bidang aplikasi, akademis dan profesi.
Berikut adalah contoh sertifikat Jurnal yang sudah terakreditasi (gambar 1) beserta lembar penilaiannya (gambar 2)
2. Kelembagaan Penerbit
1. Lembaga penerbit merupakan badan hukum (seperti lembaga penelitian setingkat pusat/lembaga eselon II atau lebih tinggi,perguruan tinggi setingkat fakultas atau lebih tinggi, organisasi profesi ilmiah) yang mampu memberikan jaminan kesinambungan dana dan naungan hukum.
2. Pengelolaan penerbitan merupakan suatu satuan organik bersifat teknis ilmiah yang tidak terpengaruh oleh adanya perubahan reorganisasi lembaga, sehingga memungkinkan memiliki kantor, ruang kerja dan alamat yang tetap.
3. Kegiatan penerbitan harus mengikuti landasan pembakuan/nasional dan internasional, serta khususnya dalam kaitannya dengan ISSN, dan peraturan 3. Penyunting / Dewan Redaksi / Editor
1. Penyuntingan dituntut melibatkan mitra bestari (peer group) dari lingkungan luas sebagai penelaah ahli.
2. Peyunting/ Dewan Redaksi/Editor bertugas untuk menilai dan mengkaji kandungan ilmiah suatu karya tulis ilmiah.
3. Para penyunting/Editor hendaklah terdiri atas perorangan berkualifikasi dan berpengalaman yang mempunyai waktu, kemauan, kemampuan, dan commitment untuk melaksanakan penyuntingan suatu karya ilmiah.
4. Pengangkatan resmi sebagai anggota sidang penyunting/editor dilakukan bukan karena jabatan struktural ex officio tetapi karena kualifikasi kepakaran seseorang.
5. Penggarisan tugas (misalnya penyunting penyelia, penyunting pelaksana, penyunting tamu) dinyatakan secara tegas dan gamblang.
6. Cakupan mandat bidang keilmuan agar lengkap terwakili oleh anggota sidang penyunting/editor.
4. Kemantapan Penampilan
1. Konsistensi ukuran, tata letak, tipe huruf, jenis kertas, jumlah halaman per penerbitan dan lain-lainnya.
2. Penampilan umum berkala agar memiliki tanda kenal yang cukup memikat (eye catching) sehingga menonjol jika tersimpan dalam meja pajangan kumpulan majalah yang baru datang.
3. Pencantuman nomor akreditasi dan masa berlaku akreditasi pada setiap penerbitan. Sebagai panduan untuk menjadikan suatu berkala ilmiah mempunyai penampilan baik, dapat digunakan buku terbitan (2006, PDII-LIPI: Pedoman Penampilan Majalah Ilmiah)
Kendala yang dihadapi dari proses pengelolaan karya tulis ilmiah antara lain masih kurangnya Sumber Daya Manusia, hal ini dikarenakan tidak semua orang menguasai kegiatan keredaksian karena dibutuhkan ketelitian dan kesabaran dalam menjalankannya sehingga sedikit orang yang mau melakukannya. Untuk mengatasi kendala tersebut perlu dilakukan prosesrekruitmen dan kaderisasi pengelola jurnal mengajarkan dan mempraktekan langsung sedikit demi sedikit proses atau kegiatan dari pengelolaan jurnal tersebut. Serta harus mempunyai keahlian di bidang teknologi informasi karena semua proses pengolahan jurnal menggunakan Open Jurnal System, kemudian kurangnya bahan tulisan dari para peneliti untuk menjaring banyaknya naskah dari penulis harus dilakukan oleh pimpinan berupa himbauan dan teguran bagi peneliti yang tidak membuat Karya Tulis Ilmiah, banyak hasil karya tulis ilmiah yang kurang berkualitas sehingga mengurangi mutu dari jurnal tersebut yang pada akhirnya akan mempengaruhi nilai akreditasinya. Untuk mengatasi masalah tersebut harus diadakan pelatihan tentang pedoman penulisanyang baik dan berkuaitas.
METODE
Metode yang digunakan adalah metode Kualitatif
Dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi dan sampel. Istilah yang digunakan adalah setting atau tempat penelitian (Arikunto, 2006) Tempat penelitiannya adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan maret sampai bulan Mei 2016.
Teknik Wawancara (interview) Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewer) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.Teknik ini dilakukan untuk mengetahui proses pengolahan jurnal dan terbitan berkala lainnya
Metode wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan kepada peneliti (Mardalis, 2006 : 64). Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi dari seseorang atau masyarakat. Dalam perjalannaya seseorang dapat memperoleh informasi melalui berbagai bentuk interaksi dengan orang lain. Setiap interaksi orang perorang diantara dua orang atau lebih individu dengan tujuan yang spesifik. Wawancara dapat sangat fleksibel atau bebas ketika pewancara mempunyai kebebasan menyusun pertanyaan yang ada dalam benaknya disekitar permasalahan yang sedang diselidiki (Widi, 2010:241). Terdapat dua jenis wawancara yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu wawancara berstruktur dan wawancara tak berstruktur. Adapun wawancara berstruktur merupakan wawancara yang sebagian besar jenis-jenis pertanyaanya telah ditentukan sebelumnya termasuk urutan yang ditanya dan materi pertanyaan. Dalam penelitian ini wawancara terstruktur dilakukan untuk menanyakan proses pengolahan Karya Tulis Ilmiah yaitu dari proses pengumpulan makalah sampai makalah tersebut terbit ke dalam jurnal.
Sedangkan wawancara tak berstruktur merupakan wawancara yang tidak secara ketat ditentukan sebelumnya menegenai jenis-jenis pertanyaannya. Materi pertanyaan dapat dikembangkan atau dapat diperluas pada saat berlangsungnya wawancara dengan menyesuaikan pada kondisi saat itu sehingga menjadi lebih fleksibel dan sesuai dengan jenis masalahnya (Tanzeh, 2009:63).
Wawancara tak berstruktur dilakukan untuk menggali informasi tambahan misalnya ada berapa jumlah pengelola yang terlibat, ada berapa jumlah anggota dewan redaksi yang ikut dalam proses pengelolaan karya tulis ilmiah tersebut serta bagaimana menangani permasalahan yang dihadapi dalam pengolahan karya tulis ilmiah
Pengelola yang terlibat dalam wawancara tersebut antara lain:
1. Anggota Dewan Redaksi
2. Redaksi Pelaksana
3. Mitra Bestari
Pembahasan
Pengolahan Jurnal di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Sebelum digabung menjadi satu antara dua Pusat yaitu Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya dengan Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan, masing-masing Pusat Tersebut memiliki Terbitan berkala yaitu dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya antara lain: Jurnal Riset Akuakultur, Indonesian Aquaculture Journal Media Akuakultur dan Buletin Teknik Litkayasa Akuakultur, Sedangkan dari Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan yaitu Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Indonesian Fisheries Research Journal, Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap, Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya Dan Penangkapan.
Setelah bergabung menjadi satu yaitu Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan proses penerbitan Jurnal tetap dikelola oleh bidang masing-masing yaitu bidang Budidaya antara lain: Jurnal Riset Akuakultur, Indonesian Aquaculture Journal Media Akuakultur dan Buletin Teknik Litkayasa Akuakultur, sedangkan untuk bidang penangkapan yaitu Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Indonesian Fisheries Research Journal, Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap, Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya Dan Penangkapan. Berikut data Balai dan yang telah berkontribusi dalam pengiriman Karya Tulis Ilmiahnya dari tahun 2010 hingga tahun 2015 seperti yang terihat pada Gambar 3 sampai Gambar 6. Data tersebut diambil pada saat masih menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya. Sehingga baru empat terbitan berkala yang terdata. Gambar 3. Data terbitan Jurnal Riset Akuakultur dari Tahun 2010 sampai dengan 2015 dari masing-masing Balai di lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya dan juga dari luar Puslitbang Perikanan Budidaya yaitu dari universitas dan lembaga penelitian lain.
Dalam perjalanannya terbitan berkala di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan mengalami kemajuan yang cukup pesat, ini dapat dilihat dari Perubahan terbitan yang bersifat populer setelah diajukan akreditasinya berganti menjadi ilmiah, hal ini tidak lepas dari peran serta para penulis dewan redaksi serta pengelola jurnal di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Selain itu masih ada beberapa terbitan berupa prosiding yang dihasilkan dari kegiatan Forum Inovasi Teknologi Akuakultur yang sudah berjalan kurang lebih 8 tahun. Karya tulis yang dihasilkan dari kegiatan tersebut jumlahnya mencapai ratusan artikel yang kesemuanya membutuhkan penanganan dari pengelola juga. minimnya sumberdaya manusia yang mengelola terbitan tersebut menjadi salah satu kendala dalam proses terbitnya jurnal di Puslitbang Perikanan yang sering terlambat dalam proses terbitnya. Hal ini pelru dukungan dari berbagai pihak agar kedepanya bisa tercipta suatu terbitan yang bagus dan tepat waktu dalam proses terbitnya.
Pengolahan Terbitan Berkala:
1. Pengumpulan Makalah
Pengumpulan makalah dilakukan untuk menjaring artikel dari para penulis dari berbagai macam bidang ilmu khusunya di bidang kelautan dan perikanan. Untuk mengetahui makalah yang masuk memenuhi kriteria atau tidak diadakan seminar untuk melakukan seleksinya yaitu dari kegiatan penelitian yang dilakukan para peneliti yang kemudian di pr esentasikan dalam kegiatan Seminar Hasil Penelitian dan Forum Inovasi Teknologi Akuakultur serta dari pertemuan Teknisi Litkayasa yang diselenggarakan setiap tahun. Sebelum diadkan seminar dilakukan proses seleksi yang menghadirkan para pakar di bidangnya. Setelah dilakukan koreksi biasanya ada perbaikan makalah dan h arus diperbaiki atau dilengkapi datanya dalam kurun waktu yang ditentukan dan biasanya sebelum acara seminar dilaksanakan. Dari hasil seminar untuk makalah yang memeiliki kriteria baik biasanya akan langsung dimasukan ke dalam jurnal atau media akuakultur. Kemudian untuk kriteria makalah yang standar akan dimasukan ke dalam prosiding.
Jurnal ilmiah secara umum adalah merupakan suatu terbitan berkala yang berbentuk pamflet berseri berisi bahan imiah yang sangat diminati orang saat diterbitkan. Jurnal ilmiah dapat diterbitkan oleh asosiasi profesi, lembaga riset, universitas maupun penerbit, dengan lingkup yang cukup spesifik (https://andykamto.com/mengenal-jurnal-ilmiah-pengelolaan-dan-penerbitan/) Pusat penelitian dan pengembangan Perikanan mempunyai 9 Balai dan 1 loka dibawahnya. Yaitu: Balai Penelitian Perikanan Laut, Balai Penelitian Perikanan Perairan Umum, Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar, Balai Penelitian Pemuliaan Ikan, Balai Litbang Budidaya Ikan Hias, Balai Besar Litbang Budidaya Laut dan Loka Litbang Budidaya rumput Laut. Dari Balai-Balai tersebut KTI di Puslitbang Perikanan dihasilkan. Jumlah jurnal yang ada di puslitbang perikanan ada 9 buah jurnal. Masing – masing jurnal terbit berbeda-beda tiap tahunya untuk Indonesian Fisheries Research Journal terbit 2 kali setahun (dua nomor), Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap 2 nomor, Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia 2 nomor, Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya Dan Penangkapan 2 nomor, Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 2 nomor, Buletin Teknik Litkayasa Akuakultur 2 nomor, Indonesian Aquaculture Journal 2 nomor, Jurnal Riset Akuakultur 4 nomor, Media Akuakultur 2 nomor. Ada beberapa langkah dalam menyusun jurnal yaitu: Pengumpulan makalah, Proses evaluasi makalah oleh reviewer yang ditunjuk, Proses revisi makalah, Pengeditan makalah yang telah dinyatakan Accepted, Pengiriman hasil penyuntingan makalah kepada penulis untuk dilakukan proof read, dan Permintaan Assignment of Copyright dari penulis (ITB, 2009) Tujuan dari penulisan artikel ini adalah Untuk mengetahui gambaran umum Pengolahan jurnal menggunakan Open Journal Systems (OJS) di Puslitbang Perikanan.Untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam penerapan Open Journal Systems (OJS)
Pengajuan Akreditasi Jurnal
Pengelolaan Jurnal Ilmiah pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan mengacu pada Pusat Data Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI) syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pengajuan akreditasi antara lain:
1. Nama Berkala
1. Nama berkala singkat sehingga mudah diacu.
2. Nama yang dipakai menonjolkan bidang ilmu dan/atau bidang aplikasi dan bukan nama lembaga/organisasi atau kota penerbitnya.
3. Istilah dan kata yang terkandung di dalam nama (majalahberkala, jurnal, buletin, berita, pemberitaan, risalah, forum, warta, nota teknis, konstribusi, komunikasi) dipakai dengan makna yang tepat dan sesuai.
4. Adanya keselarasan antara nama dan disiplin ilmu dan/atau bidang aplikasi, akademis dan profesi.
Berikut adalah contoh sertifikat Jurnal yang sudah terakreditasi (gambar 1) beserta lembar penilaiannya (gambar 2)
2. Kelembagaan Penerbit
1. Lembaga penerbit merupakan badan hukum (seperti lembaga penelitian setingkat pusat/lembaga eselon II atau lebih tinggi,perguruan tinggi setingkat fakultas atau lebih tinggi, organisasi profesi ilmiah) yang mampu memberikan jaminan kesinambungan dana dan naungan hukum.
2. Pengelolaan penerbitan merupakan suatu satuan organik bersifat teknis ilmiah yang tidak terpengaruh oleh adanya perubahan reorganisasi lembaga, sehingga memungkinkan memiliki kantor, ruang kerja dan alamat yang tetap.
3. Kegiatan penerbitan harus mengikuti landasan pembakuan/nasional dan internasional, serta khususnya dalam kaitannya dengan ISSN, dan peraturan 3. Penyunting / Dewan Redaksi / Editor
1. Penyuntingan dituntut melibatkan mitra bestari (peer group) dari lingkungan luas sebagai penelaah ahli.
2. Peyunting/ Dewan Redaksi/Editor bertugas untuk menilai dan mengkaji kandungan ilmiah suatu karya tulis ilmiah.
3. Para penyunting/Editor hendaklah terdiri atas perorangan berkualifikasi dan berpengalaman yang mempunyai waktu, kemauan, kemampuan, dan commitment untuk melaksanakan penyuntingan suatu karya ilmiah.
4. Pengangkatan resmi sebagai anggota sidang penyunting/editor dilakukan bukan karena jabatan struktural ex officio tetapi karena kualifikasi kepakaran seseorang.
5. Penggarisan tugas (misalnya penyunting penyelia, penyunting pelaksana, penyunting tamu) dinyatakan secara tegas dan gamblang.
6. Cakupan mandat bidang keilmuan agar lengkap terwakili oleh anggota sidang penyunting/editor.
4. Kemantapan Penampilan
1. Konsistensi ukuran, tata letak, tipe huruf, jenis kertas, jumlah halaman per penerbitan dan lain-lainnya.
2. Penampilan umum berkala agar memiliki tanda kenal yang cukup memikat (eye catching) sehingga menonjol jika tersimpan dalam meja pajangan kumpulan majalah yang baru datang.
3. Pencantuman nomor akreditasi dan masa berlaku akreditasi pada setiap penerbitan. Sebagai panduan untuk menjadikan suatu berkala ilmiah mempunyai penampilan baik, dapat digunakan buku terbitan (2006, PDII-LIPI: Pedoman Penampilan Majalah Ilmiah)
Kendala yang dihadapi dari proses pengelolaan karya tulis ilmiah antara lain masih kurangnya Sumber Daya Manusia, hal ini dikarenakan tidak semua orang menguasai kegiatan keredaksian karena dibutuhkan ketelitian dan kesabaran dalam menjalankannya sehingga sedikit orang yang mau melakukannya. Untuk mengatasi kendala tersebut perlu dilakukan prosesrekruitmen dan kaderisasi pengelola jurnal mengajarkan dan mempraktekan langsung sedikit demi sedikit proses atau kegiatan dari pengelolaan jurnal tersebut. Serta harus mempunyai keahlian di bidang teknologi informasi karena semua proses pengolahan jurnal menggunakan Open Jurnal System, kemudian kurangnya bahan tulisan dari para peneliti untuk menjaring banyaknya naskah dari penulis harus dilakukan oleh pimpinan berupa himbauan dan teguran bagi peneliti yang tidak membuat Karya Tulis Ilmiah, banyak hasil karya tulis ilmiah yang kurang berkualitas sehingga mengurangi mutu dari jurnal tersebut yang pada akhirnya akan mempengaruhi nilai akreditasinya. Untuk mengatasi masalah tersebut harus diadakan pelatihan tentang pedoman penulisanyang baik dan berkuaitas.
METODE
Metode yang digunakan adalah metode Kualitatif
Dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi dan sampel. Istilah yang digunakan adalah setting atau tempat penelitian (Arikunto, 2006) Tempat penelitiannya adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan maret sampai bulan Mei 2016.
Teknik Wawancara (interview) Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewer) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.Teknik ini dilakukan untuk mengetahui proses pengolahan jurnal dan terbitan berkala lainnya
Metode wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan kepada peneliti (Mardalis, 2006 : 64). Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi dari seseorang atau masyarakat. Dalam perjalannaya seseorang dapat memperoleh informasi melalui berbagai bentuk interaksi dengan orang lain. Setiap interaksi orang perorang diantara dua orang atau lebih individu dengan tujuan yang spesifik. Wawancara dapat sangat fleksibel atau bebas ketika pewancara mempunyai kebebasan menyusun pertanyaan yang ada dalam benaknya disekitar permasalahan yang sedang diselidiki (Widi, 2010:241). Terdapat dua jenis wawancara yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu wawancara berstruktur dan wawancara tak berstruktur. Adapun wawancara berstruktur merupakan wawancara yang sebagian besar jenis-jenis pertanyaanya telah ditentukan sebelumnya termasuk urutan yang ditanya dan materi pertanyaan. Dalam penelitian ini wawancara terstruktur dilakukan untuk menanyakan proses pengolahan Karya Tulis Ilmiah yaitu dari proses pengumpulan makalah sampai makalah tersebut terbit ke dalam jurnal.
Sedangkan wawancara tak berstruktur merupakan wawancara yang tidak secara ketat ditentukan sebelumnya menegenai jenis-jenis pertanyaannya. Materi pertanyaan dapat dikembangkan atau dapat diperluas pada saat berlangsungnya wawancara dengan menyesuaikan pada kondisi saat itu sehingga menjadi lebih fleksibel dan sesuai dengan jenis masalahnya (Tanzeh, 2009:63).
Wawancara tak berstruktur dilakukan untuk menggali informasi tambahan misalnya ada berapa jumlah pengelola yang terlibat, ada berapa jumlah anggota dewan redaksi yang ikut dalam proses pengelolaan karya tulis ilmiah tersebut serta bagaimana menangani permasalahan yang dihadapi dalam pengolahan karya tulis ilmiah
Pengelola yang terlibat dalam wawancara tersebut antara lain:
1. Anggota Dewan Redaksi
2. Redaksi Pelaksana
3. Mitra Bestari
Pembahasan
Pengolahan Jurnal di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Sebelum digabung menjadi satu antara dua Pusat yaitu Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya dengan Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan, masing-masing Pusat Tersebut memiliki Terbitan berkala yaitu dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya antara lain: Jurnal Riset Akuakultur, Indonesian Aquaculture Journal Media Akuakultur dan Buletin Teknik Litkayasa Akuakultur, Sedangkan dari Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan yaitu Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Indonesian Fisheries Research Journal, Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap, Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya Dan Penangkapan.
Setelah bergabung menjadi satu yaitu Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan proses penerbitan Jurnal tetap dikelola oleh bidang masing-masing yaitu bidang Budidaya antara lain: Jurnal Riset Akuakultur, Indonesian Aquaculture Journal Media Akuakultur dan Buletin Teknik Litkayasa Akuakultur, sedangkan untuk bidang penangkapan yaitu Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Indonesian Fisheries Research Journal, Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap, Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya Dan Penangkapan. Berikut data Balai dan yang telah berkontribusi dalam pengiriman Karya Tulis Ilmiahnya dari tahun 2010 hingga tahun 2015 seperti yang terihat pada Gambar 3 sampai Gambar 6. Data tersebut diambil pada saat masih menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya. Sehingga baru empat terbitan berkala yang terdata. Gambar 3. Data terbitan Jurnal Riset Akuakultur dari Tahun 2010 sampai dengan 2015 dari masing-masing Balai di lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya dan juga dari luar Puslitbang Perikanan Budidaya yaitu dari universitas dan lembaga penelitian lain.
Dalam perjalanannya terbitan berkala di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan mengalami kemajuan yang cukup pesat, ini dapat dilihat dari Perubahan terbitan yang bersifat populer setelah diajukan akreditasinya berganti menjadi ilmiah, hal ini tidak lepas dari peran serta para penulis dewan redaksi serta pengelola jurnal di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Selain itu masih ada beberapa terbitan berupa prosiding yang dihasilkan dari kegiatan Forum Inovasi Teknologi Akuakultur yang sudah berjalan kurang lebih 8 tahun. Karya tulis yang dihasilkan dari kegiatan tersebut jumlahnya mencapai ratusan artikel yang kesemuanya membutuhkan penanganan dari pengelola juga. minimnya sumberdaya manusia yang mengelola terbitan tersebut menjadi salah satu kendala dalam proses terbitnya jurnal di Puslitbang Perikanan yang sering terlambat dalam proses terbitnya. Hal ini pelru dukungan dari berbagai pihak agar kedepanya bisa tercipta suatu terbitan yang bagus dan tepat waktu dalam proses terbitnya.
Pengolahan Terbitan Berkala:
1. Pengumpulan Makalah
Pengumpulan makalah dilakukan untuk menjaring artikel dari para penulis dari berbagai macam bidang ilmu khusunya di bidang kelautan dan perikanan. Untuk mengetahui makalah yang masuk memenuhi kriteria atau tidak diadakan seminar untuk melakukan seleksinya yaitu dari kegiatan penelitian yang dilakukan para peneliti yang kemudian di pr esentasikan dalam kegiatan Seminar Hasil Penelitian dan Forum Inovasi Teknologi Akuakultur serta dari pertemuan Teknisi Litkayasa yang diselenggarakan setiap tahun. Sebelum diadkan seminar dilakukan proses seleksi yang menghadirkan para pakar di bidangnya. Setelah dilakukan koreksi biasanya ada perbaikan makalah dan h arus diperbaiki atau dilengkapi datanya dalam kurun waktu yang ditentukan dan biasanya sebelum acara seminar dilaksanakan. Dari hasil seminar untuk makalah yang memeiliki kriteria baik biasanya akan langsung dimasukan ke dalam jurnal atau media akuakultur. Kemudian untuk kriteria makalah yang standar akan dimasukan ke dalam prosiding.
Komentar
Posting Komentar